Belakangan ini, muncul narasi yang menyederhanakan masalah banjir di Bali dengan satu kesimpulan cepat: seharusnya bangunan dibuat tinggi ke atas, bukan melebar ke samping. Sekilas terdengar logis. Namun jika ditelaah lebih dalam, pandangan ini justru menyesatkan dan berpotensi mengaburkan akar persoalan yang sebenarnya.
Artikel ini tidak ditulis untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk meluruskan logika agar diskusi publik tidak terjebak pada kesimpulan instan.
Air hujan tidak bertanya berapa lantai sebuah gedung.
Banjir terjadi ketika:
Sebuah bangunan 3 lantai dan bangunan 12 lantai bisa sama-sama menyebabkan banjir jika:
Artinya, tinggi bangunan bukan variabel utama dalam persoalan banjir.
Banyak kota modern dengan gedung pencakar langit tetap mengalami banjir parah. Mengapa?
Karena pembangunan vertikal tetap membutuhkan:
Jika pembangunan vertikal dilakukan tanpa kendali lingkungan, dampaknya justru bisa lebih berat:
Maka menyebut "bangunan ke atas" sebagai solusi banjir adalah ilusi teknokratis.
Masalah banjir di Bali bersumber dari persoalan struktural, bukan ketinggian bangunan:
Selama faktor-faktor ini tidak dibenahi, bangunan setinggi apa pun tidak akan menyelamatkan Bali dari banjir.
Pembatasan tinggi bangunan di Bali lahir dari:
Aturan ini berfungsi sebagai alat kontrol, bukan penghambat kemajuan.
Masalah muncul bukan karena aturannya ada, tetapi karena:
Menyalahkan aturan budaya atas banjir sama kelirunya dengan menyalahkan rambu lalu lintas atas kecelakaan.
Narasi yang menyederhanakan masalah banjir menjadi isu "bangunan ke samping vs ke atas" berbahaya karena:
Ketika diskusi publik diarahkan ke sana, solusi nyata justru menjauh.
Jika benar ingin mencegah banjir, maka fokus seharusnya pada:
Bukan pada mengubah identitas ruang Bali agar menyerupai kota beton lain.
Bali tidak kekurangan gedung tinggi.
Bali kekurangan disiplin tata ruang dan keberanian menegakkan aturan.
Selama pembangunan lebih cepat daripada kesadaran lingkungan, banjir akan terus berulang, tak peduli bangunannya ke atas atau ke samping.
Diskusi publik seharusnya mencerahkan, bukan menyederhanakan.
Karena masa depan Bali tidak ditentukan oleh ketinggian bangunan, tetapi oleh kebijaksanaan dalam membangun.
8 September 2025
Di era digital seperti sekarang, kemampuan anak dalam memahami teknologi menjadi...
17 Desember 2024
Di era digital ini, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupa...
20 Desember 2024
Belajar komputer sering kali dianggap membosankan oleh anak-anak. Namun, dengan...
28 Oktober 2024
Dunia teknologi terus berkembang, begitu juga dengan bahasa pemrograman. Setiap...
9 Juni 2025
Perkembangan teknologi membuat cara kita bekerja ikut berubah. Kini, banyak peke...