Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial kita di Bali dipenuhi oleh pemandangan yang seragam: video amatir berdurasi pendek, potret kendaraan yang mengular ratusan meter di luar pembatas SPBU, dan kolom komentar yang sesak oleh keluhan serta kepanikan. Krisis BBM yang melanda Denpasar, Badung, hingga Tabanan pekan ini tidak hanya menguji ketahanan energi kita, tetapi juga menelanjangi satu masalah akut lainnya: krisis jurnalisme di media sosial kita.
Coba perhatikan baik-baik. Ketika antrean BBM mulai memuncak dan SPBU mulai kehabisan stok, apa yang dilakukan oleh sebagian besar akun informasi publik lokal yang memiliki ratusan ribu pengikut di Instagram atau TikTok?
Mayoritas dari mereka hanya melakukan satu hal: repost. Mereka menerima kiriman video dari netizen yang sedang panik, mengunggahnya dengan caption yang bombastis, lalu membiarkan kolom komentar meledak menjadi arena saling tuduh. Banyak dari pengelola akun ini yang dengan bangga menyematkan narasi "jurnalisme warga" atau bahkan mengaku bertindak layaknya wartawan. Namun, apakah itu yang dinamakan kerja jurnalistik yang benar?
Tentu saja tidak.
Esensi dari kerja seorang wartawan dan media informasi yang bertanggung jawab adalah mencari akar masalah (root cause) dan melakukan verifikasi, bukan sekadar menjadi corong atau kurator kepanikan publik.
Ketika krisis energi terjadi, masyarakat tidak butuh disuguhi puluhan video antrean horor dari sudut pom bensin yang berbeda. Warga sudah tahu bahwa jalanan sedang macet dan bensin sedang langka karena mereka mengalaminya sendiri di lapangan. Yang sangat dibutuhkan oleh publik adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar: Kenapa ini bisa terjadi? Bagian mana dari sistem distribusi darat yang macet? Jam berapa truk tangki pasokan biasanya tiba di area tertentu agar warga bisa mengantisipasi waktu?
Sayangnya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan usaha. Itu berarti sang pengelola akun atau wartawan harus berdiri dari kursi empuknya, pergi ke titik distribusi seperti Depo Pesanggaran atau Depo Manggis, mengonfirmasi data kuota ke BPH Migas, atau setidaknya mencecar pihak Pertamina secara kritis guna mendapatkan garis waktu (timeline) pemulihan yang transparan.
Karena proses investigasi itu memakan waktu, tenaga, dan biaya operasional, banyak akun informasi lokal memilih jalan pintas yang jauh lebih menguntungkan secara bisnis: memproduksi konten berbasis kepanikan. Di era speed-driven journalism saat ini, ketepatan dan kedalaman informasi sering kali dikorbankan demi kecepatan dan jumlah klik (views). Kepanikan adalah komoditas yang sangat laku, dan akun-akun tersebut sedang memanen keuntungan dari sana.
Kelalaian media sosial dalam menyajikan akar masalah ini bukan tanpa dampak. Ketika sebuah akun besar mengunggah video SPBU kosong tanpa penjelasan teknis mengenai kapan kapal pasokan baru akan bersandar, efek psikologis yang langsung terbangun di benak masyarakat adalah kecemasan.
Kecemasan inilah yang kemudian memicu panic buying (pembelian massal secara berlebihan). Warga yang sebenarnya tangki kendaraannya masih terisi setengah, mendadak ikut mengantre karena takut besok bensin habis total. Akibatnya, pasokan tambahan yang baru saja didistribusikan oleh truk Pertamina langsung ludes dalam hitungan jam karena lonjakan permintaan yang tidak wajar. Media sosial, dalam hal ini, bukan lagi menjadi solusi, melainkan ikut andil memperpanjang rantai kelangkaan di lapangan.
Fenomena ini menjadi refleksi sekaligus peluang besar bagi kita semua, terutama bagi ruang-ruang alternatif seperti website pribadi atau media komunitas independen. Publik saat ini sebenarnya sudah mulai lelah dengan akun-akun informasi yang hanya mengejar viralitas tanpa bobot edukasi. Pembaca hari ini merindukan sebuah oase: sebuah platform yang tidak ikut-ikutan berteriak di tengah kegaduhan, melainkan hadir menjernihkan suasana dengan data, logika, dan analisis mendalam.
Menjadi penyampai informasi yang baik tidak selalu berarti Anda harus berlari mengejar truk tangki di jalanan setiap hari. Namun, itu berarti Anda berkomitmen untuk tidak ikut menyebarkan ketakutan. Itu berarti Anda mau meluangkan waktu sejenak untuk membaca regulasi, membedah alur logistik, dan menyajikan sudut pandang baru yang membuka mata pembaca, seperti menanyakan kesiapan infrastruktur kendaraan listrik di tengah rapuhnya ketahanan energi kita saat ini.
Sudah saatnya akun-akun informasi di Bali naik kelas. Berhentilah sekadar menjadi papan pengumuman masalah, dan mulailah mendidik publik dengan mencari di mana akar masalahnya berada. Karena jurnalisme yang sejati tidak bekerja untuk mengumpulkan jempol elektronik (likes), melainkan bekerja untuk menerangi ketidaktahuan masyarakat.
8 September 2025
Di era digital seperti sekarang, kemampuan anak dalam memahami teknologi menjadi...
17 Desember 2024
Di era digital ini, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupa...
9 Juni 2025
Perkembangan teknologi membuat cara kita bekerja ikut berubah. Kini, banyak peke...
20 Desember 2024
Belajar komputer sering kali dianggap membosankan oleh anak-anak. Namun, dengan...
3 Juni 2025
Di era digital saat ini, mengenalkan anak pada teknologi komputer sejak dini buk...